Sabtu, 07 Agustus 2021

Tentang Bulan (2)

 ...

Tetapi (ini kusyukuri kok), sudah beberapa kali konsultasi yang kulakukan, mereka bilang tak ada apapun; ini hanya soal hormon saja.

Tetapi astaga, sejujurnya aku benci bertanya pada dokter. Seringkali, mereka kurang paham akan apa yang kukatakan; mereka kurang memahami diriku (dan para pasien lain juga kurasa?). Aku tahu, aku pernah membaca sekilas bahwa tenaga medis memang harus bersikap "skeptis" atau "dingin" karena memang terdapat orang-orang yang melebihkan apa yang dirasakan; dan bahwa secara psikologis orang cenderung melebihkan sesuatu tentang dirinya (katanya).

Namun bukankah terdapat skala? Kenapa tak dipakai? Tetapi selain itu, ya memang aku juga "dingin", kurasa terkadang sikap yang demikian juga sedikitnya ada berasal dari ego mereka sendiri. Seperti kau tahu kan? Terkadang orang yang berilmu tinggi sekali malah atau masih menjadi terlalu sombong; heh, memang salah satu "penyakit" orang berilmu. Aku juga tahu, aku pun sering kali merasa "lebih" perihal soal sakit ini ketimbang wanita lain dalam hal ini. Hey, tapi aku tak menunjukannya dan tetap pada dasar hatiku, aku benar-benar berempati bukan?

Ada satu waktu ini, aku kesal sekali dan itu tampak jelas, karena orang yang mengantarku berulang kali berkata "kenapa tegang sekali" dan berakhir dengan ia merasa tak nyaman di situasi itu; dan bahwa ia pun ikut kesal karena aku tampak kesal. Haha, aku yang kesal kok. Tapi ia ikut menjadi sedikit kesal, karena ia merasa tak enak saja pada kami berdua (dan pada saat setelahnya aku berdiskusi dengan dia, namun masih tetap dengan kekesalan yang tampak jelas). Tapi tetap, terima kasih banyak sudah membawaku berkonsultasi.

Jadi, aku kesal sekali. Kurasakan ia tak menganggapku serius, karena tak ada apa-apa didalam diriku. Karena hasilnya normal. Padahal aku juga bercerita karena aku sudah muak, bukan karena percaya, dan aku memang menginginkan resep obat tidur. Kau tahu, jika bisa kuperoleh tanpa resep tentu saja aku tak akan repot memintanya kepadamu.

Setelahnya memang ia bilang (setelah dia sadari bahwa aku sebenarnya marah mungkin), bahwa ia tak punya kewenangan itu, dan ia menyarankan untuk membeli obat lain yang ada atribut pembuat ngantuknya. Hei ... justru aku tahu bahwa penggunaan obat tak seharusnya begitu, makanya aku meminta kan? Makanya, kesal sekali aku pada saat itu, sekarang pun sedikit.

Aku hanya mendapat resep obat penahan sakit biasa dan vitamin; yang mana, tak kami tebus disana (karena lebih mahal tentunya). Aku juga hanya berakhir membeli vitaminnya, karena obat penahan sakit sudah tak terlalu mempan lagi padaku. Malah hanya menambah memori mual saja bahkan saat hanya jika aku melihat obat itu saja, karena sudah terasosiasi.

Memang, vitamin yang diberikannya bagus. Pada bulan-bulan awal setelahnya aku merasakan keringanan setelah mengkonsumsinya; aku juga merasakan saran untuk sedikit menggerakan tubuhku saat sakitnya datang juga ada benarnya. Juga saran akan makanan dan air yang harus dikonsumsi dsb dsb.

Tapi itu hanya solusi sementara. Aku tetap harus menderita berjam-jam lamanya jika aku tak bisa tertidur cepat; merasakan seolah sebagian tubuhku terobek sepanjang aku tak bisa tidur. Maka persetan, aku pun sesekali memakai obat beratribut ngantuk itu walau entah efek lainnya apa karena bukan penggunaan obat yang tepat; sesuai sarannya, dan juga pilihan yang memang akan tetap kuambil jika tak bisa kudapatkan obatnya. Memangnya harus bagaimana lagi? Jika semudah itu kubenturkan kepala agar jatuh tertidur, tak akan repot-repot kuminum obat.

Tapi kumaafkan kok; seperti banyak hal lainnya. Namun aku tak pernah lupa, dan pada waktunya, maaf saja jika aku terus mengulang kisah-kisah yang menyakitiku; itu bagian dari resikonya.

...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar