Sabtu, 07 Agustus 2021

Tentang Bulan (1)

Aku lelah sekali, secara pribadi maupun secara hubungan antara manusia.

Aku tahu, mereka yang bermoral, bersimpati, dan lainnya tentu akan memahami. Jika tidak, yah tunjukan saja peraturan hukum negara untuk membungkam mereka.

Namun sejujurnya, aku sendiri juga terkadang sulit untuk memahami apa yang orang lain rasakan. Aku juga menjadi lebih ... elit; analoginya seperti dalam susunan kulit bawang. Tapi yah wajar saja bukan? Dari yang kudengar, memang sepertinya apa yang kujalani setiap kalinya lebih parah daripada kebanyakan orang. Walau tentu saja, aku tak membedakan dan tetap mengakui bahwa setiap wanita yang bernasib sama (setiap bulan) tetap berhak untuk mendapatkan keringanan.

Maksudku, jika saja kau tahu betapa gilanya hal ini.

Sudah berapa lama aku begini? Jelas, bertahun-tahun. Tentu saja aku juga bersyukur akan hal itu, bahwa artinya aku normal; terdapat siklus yang jelas. Aku juga mulai bisa membedakan dan lebih "terbiasa", berkat pengalaman bertahun-tahun itu; juga kurasa memang semakin bertambahnya usia, terkadang dan secara keseluruhan hal ini menjadi lebih ringan. Tapi bukan artinya ada perubahan drastis.

Aku tetap seperti orang yang terkena racun mematikan setiap kali. Pada pengawal hari, seringkali aku bahkan tak sanggup jika harus bangkit dari tidur. Bisakah? Tentu. Tapi itu adalah penyiksaan yang kejam jika kau suruh demikian.

Berdiri dan bahkan duduk saja aku tak bisa tegap; lututku saja goyah, mudah untuk jatuh sewaktu-waktu jika tak kukerahkan seluruh tenagaku. Sekedar pergi ke toilet pun aku tunda sampai aku tak tahan, dan kau tahu yang lebih buruk ketimbang sakit pada kepalamu?

Perasaan mual yang bercampur. Sial, bahkan untuk tidur saja tak bisa tenang. Juga tak semudah itu untuk tertidur saat kau merasakan hal-hal ini. Untuk apa tidur katamu? Tentu saja agar waktu berpindah, dan kau tak lagi merasakan sakitnya.

Hah.

Tidak aku tak menganut konsep karma, itu bukan berasal dari agama yang kuyakini. Tentu saja aku mengalami hal ini karena memang takdirnya, dan bawaan genetika, dsb. Aku memang teringat, saat berada di sekolah, aku dan beberapa temanku tertawa kepada seorang murid gadis dan temannya yang mengantar ia yang sedang sakit haid. Dia pun sedikit berkomentar tajam, tapi aku tak merasa tersinggung bahkan pada saat itu; karena aku sudah paham, bahkan pada saat itu dimana aku belum mengalami sakit yang sehebat ini. Tapi, kami tertawa karena perkataannya yang gamblang; bukan akan nasibnya.

Kemudian, dari sebuah ceramah yang pernah kudengar. Aku lupa apakah kasusnya sama atau sedikit berbeda - ah seingatku hal yang berbeda - pokoknya dikisahkan ada seorang wanita yang juga mengalami penyakit yang berulang pada waktu tertentu. Setelah mendapat penjelasan, bahwa sakitnya pada setiap waktu itu diganjar penghapusan dosa dan pahala dan sebagainya, wanita itu lebih memilih untuk tetap begitu ketimbang disembuhkan; dan dia bersyukur akan kesempatan itu.

Itu bukan hal yang bodoh. Aku juga percaya bahwa sakit yang kualami seringkali ini pun semoga saja juga membantu menghapuskan dosa-dosaku. Namun tentu saja aku tak tahan, terutama pada waktu-waktu dimana rasa sakitnya paling hebat. Rasa sakitnya itu kan seperti kurva, tak pernah sama setiap bulannya.

...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar