Kamis, 12 Agustus 2021

Its Kinda Cloudy.

Fck its just not possible to human again for me atm. Well then, im just gonna do what i have to for the moment being ....

....

I have a lot in my mind, but i'll just let it there for now.

Sabtu, 07 Agustus 2021

Tentang Bulan (3)

 ...

Jadi begitulah. Semua hal itu kutulis karena setiap kali, setiap waktunya dekat, aku tak pernah bisa tenang dan selalu takut; walau sedikit.

Memang sialan.

Kubilang di awal bahwa aku lelah seperti ini. Aku lelah harus menjelaskannya berulang kali di situasi "professional"; semata untuk menunjukan bahwa itu bukan sekedar alasan saja atau bahwa memang aku malas, ini memang hal yang menakutkan sekali dan tak bisa kuprediksi dengan tepat.

Ah ya ... tetapi aku tentu juga bersyukur akan kenormalan ini. Juga kupikir, mungkinkah jika begitu spesial sakitnya, maka apa yang akan datang darinya juga merupakan hal yang sangat spesial? Semoga saja, amin. Aku berdoa dan juga akan mengusahakannya.

Begitulah. Lain waktu aku akan menulis tentang hal ini dalam konteks yang lebih serius, namun tidak disini. Juga, memang, karena mengalami sendiri aku menjadi lebih peduli untuk memperjuangkan hak para wanita yang spesial ini.


*


P.s.: Tahukah? Kupikir, alasan dari kebiasaan adik tak seharusnya menikah mendahului kakak adalah agar hirarki keturunannya (ah ya, dan iparnya) tetap terjaga. Haha, hal yang memang bodoh tapi juga kumengerti. Karena ego masing-masing dari kita; aku, dan dia pun aku tahu begitu. Tapi yah tak mengapa, selama tak menimbulkan masalah besar, hal yang demikian adalah wajar dan ringan saja. Ego tak lebih penting dari mendahulukan menikah mereka yang telah siap.

Tentang Bulan (2)

 ...

Tetapi (ini kusyukuri kok), sudah beberapa kali konsultasi yang kulakukan, mereka bilang tak ada apapun; ini hanya soal hormon saja.

Tetapi astaga, sejujurnya aku benci bertanya pada dokter. Seringkali, mereka kurang paham akan apa yang kukatakan; mereka kurang memahami diriku (dan para pasien lain juga kurasa?). Aku tahu, aku pernah membaca sekilas bahwa tenaga medis memang harus bersikap "skeptis" atau "dingin" karena memang terdapat orang-orang yang melebihkan apa yang dirasakan; dan bahwa secara psikologis orang cenderung melebihkan sesuatu tentang dirinya (katanya).

Namun bukankah terdapat skala? Kenapa tak dipakai? Tetapi selain itu, ya memang aku juga "dingin", kurasa terkadang sikap yang demikian juga sedikitnya ada berasal dari ego mereka sendiri. Seperti kau tahu kan? Terkadang orang yang berilmu tinggi sekali malah atau masih menjadi terlalu sombong; heh, memang salah satu "penyakit" orang berilmu. Aku juga tahu, aku pun sering kali merasa "lebih" perihal soal sakit ini ketimbang wanita lain dalam hal ini. Hey, tapi aku tak menunjukannya dan tetap pada dasar hatiku, aku benar-benar berempati bukan?

Ada satu waktu ini, aku kesal sekali dan itu tampak jelas, karena orang yang mengantarku berulang kali berkata "kenapa tegang sekali" dan berakhir dengan ia merasa tak nyaman di situasi itu; dan bahwa ia pun ikut kesal karena aku tampak kesal. Haha, aku yang kesal kok. Tapi ia ikut menjadi sedikit kesal, karena ia merasa tak enak saja pada kami berdua (dan pada saat setelahnya aku berdiskusi dengan dia, namun masih tetap dengan kekesalan yang tampak jelas). Tapi tetap, terima kasih banyak sudah membawaku berkonsultasi.

Jadi, aku kesal sekali. Kurasakan ia tak menganggapku serius, karena tak ada apa-apa didalam diriku. Karena hasilnya normal. Padahal aku juga bercerita karena aku sudah muak, bukan karena percaya, dan aku memang menginginkan resep obat tidur. Kau tahu, jika bisa kuperoleh tanpa resep tentu saja aku tak akan repot memintanya kepadamu.

Setelahnya memang ia bilang (setelah dia sadari bahwa aku sebenarnya marah mungkin), bahwa ia tak punya kewenangan itu, dan ia menyarankan untuk membeli obat lain yang ada atribut pembuat ngantuknya. Hei ... justru aku tahu bahwa penggunaan obat tak seharusnya begitu, makanya aku meminta kan? Makanya, kesal sekali aku pada saat itu, sekarang pun sedikit.

Aku hanya mendapat resep obat penahan sakit biasa dan vitamin; yang mana, tak kami tebus disana (karena lebih mahal tentunya). Aku juga hanya berakhir membeli vitaminnya, karena obat penahan sakit sudah tak terlalu mempan lagi padaku. Malah hanya menambah memori mual saja bahkan saat hanya jika aku melihat obat itu saja, karena sudah terasosiasi.

Memang, vitamin yang diberikannya bagus. Pada bulan-bulan awal setelahnya aku merasakan keringanan setelah mengkonsumsinya; aku juga merasakan saran untuk sedikit menggerakan tubuhku saat sakitnya datang juga ada benarnya. Juga saran akan makanan dan air yang harus dikonsumsi dsb dsb.

Tapi itu hanya solusi sementara. Aku tetap harus menderita berjam-jam lamanya jika aku tak bisa tertidur cepat; merasakan seolah sebagian tubuhku terobek sepanjang aku tak bisa tidur. Maka persetan, aku pun sesekali memakai obat beratribut ngantuk itu walau entah efek lainnya apa karena bukan penggunaan obat yang tepat; sesuai sarannya, dan juga pilihan yang memang akan tetap kuambil jika tak bisa kudapatkan obatnya. Memangnya harus bagaimana lagi? Jika semudah itu kubenturkan kepala agar jatuh tertidur, tak akan repot-repot kuminum obat.

Tapi kumaafkan kok; seperti banyak hal lainnya. Namun aku tak pernah lupa, dan pada waktunya, maaf saja jika aku terus mengulang kisah-kisah yang menyakitiku; itu bagian dari resikonya.

...

Tentang Bulan (1)

Aku lelah sekali, secara pribadi maupun secara hubungan antara manusia.

Aku tahu, mereka yang bermoral, bersimpati, dan lainnya tentu akan memahami. Jika tidak, yah tunjukan saja peraturan hukum negara untuk membungkam mereka.

Namun sejujurnya, aku sendiri juga terkadang sulit untuk memahami apa yang orang lain rasakan. Aku juga menjadi lebih ... elit; analoginya seperti dalam susunan kulit bawang. Tapi yah wajar saja bukan? Dari yang kudengar, memang sepertinya apa yang kujalani setiap kalinya lebih parah daripada kebanyakan orang. Walau tentu saja, aku tak membedakan dan tetap mengakui bahwa setiap wanita yang bernasib sama (setiap bulan) tetap berhak untuk mendapatkan keringanan.

Maksudku, jika saja kau tahu betapa gilanya hal ini.

Sudah berapa lama aku begini? Jelas, bertahun-tahun. Tentu saja aku juga bersyukur akan hal itu, bahwa artinya aku normal; terdapat siklus yang jelas. Aku juga mulai bisa membedakan dan lebih "terbiasa", berkat pengalaman bertahun-tahun itu; juga kurasa memang semakin bertambahnya usia, terkadang dan secara keseluruhan hal ini menjadi lebih ringan. Tapi bukan artinya ada perubahan drastis.

Aku tetap seperti orang yang terkena racun mematikan setiap kali. Pada pengawal hari, seringkali aku bahkan tak sanggup jika harus bangkit dari tidur. Bisakah? Tentu. Tapi itu adalah penyiksaan yang kejam jika kau suruh demikian.

Berdiri dan bahkan duduk saja aku tak bisa tegap; lututku saja goyah, mudah untuk jatuh sewaktu-waktu jika tak kukerahkan seluruh tenagaku. Sekedar pergi ke toilet pun aku tunda sampai aku tak tahan, dan kau tahu yang lebih buruk ketimbang sakit pada kepalamu?

Perasaan mual yang bercampur. Sial, bahkan untuk tidur saja tak bisa tenang. Juga tak semudah itu untuk tertidur saat kau merasakan hal-hal ini. Untuk apa tidur katamu? Tentu saja agar waktu berpindah, dan kau tak lagi merasakan sakitnya.

Hah.

Tidak aku tak menganut konsep karma, itu bukan berasal dari agama yang kuyakini. Tentu saja aku mengalami hal ini karena memang takdirnya, dan bawaan genetika, dsb. Aku memang teringat, saat berada di sekolah, aku dan beberapa temanku tertawa kepada seorang murid gadis dan temannya yang mengantar ia yang sedang sakit haid. Dia pun sedikit berkomentar tajam, tapi aku tak merasa tersinggung bahkan pada saat itu; karena aku sudah paham, bahkan pada saat itu dimana aku belum mengalami sakit yang sehebat ini. Tapi, kami tertawa karena perkataannya yang gamblang; bukan akan nasibnya.

Kemudian, dari sebuah ceramah yang pernah kudengar. Aku lupa apakah kasusnya sama atau sedikit berbeda - ah seingatku hal yang berbeda - pokoknya dikisahkan ada seorang wanita yang juga mengalami penyakit yang berulang pada waktu tertentu. Setelah mendapat penjelasan, bahwa sakitnya pada setiap waktu itu diganjar penghapusan dosa dan pahala dan sebagainya, wanita itu lebih memilih untuk tetap begitu ketimbang disembuhkan; dan dia bersyukur akan kesempatan itu.

Itu bukan hal yang bodoh. Aku juga percaya bahwa sakit yang kualami seringkali ini pun semoga saja juga membantu menghapuskan dosa-dosaku. Namun tentu saja aku tak tahan, terutama pada waktu-waktu dimana rasa sakitnya paling hebat. Rasa sakitnya itu kan seperti kurva, tak pernah sama setiap bulannya.

...

Terkait Sesuatu Itu.

Ia berkata, katanya itu adalah ideliasme yang bodoh. Kau berkata bahwa itu adalah ucapan yang keji bagimu, tapi tak terlalu. Mungkin karena moodku sedang baik, ah tapi kurasa karena memang ada juga kebenarannya. Juga, aku suka kalau kau bisa sejujur dan seberani itu.
Juga memang, aku pun tahu dan mengakui sisi tersebut, maka tak kusangkal.

Tapi tak semuanya salah. Justru, jika saja kau tak memiliki masalahmu sendiri akan hal itu, kau juga akan lebih mampu melihat bahwa alasanku begitu rinci dan logis; bukan hanya sekedar alasan.

Yah seperti yang selalu kudengar sedari dulu, semua alasan itu benar. Memang.

Haha, dan lucu sekali. Kau bahkan seringkali tak mau menyebut namanya, nama akan "sesuatu" tersebut. Sama seperti aku yang takut jika menyinggung nama akan sesuatu hal yang lain, atau bahwa dalam kenyataannya aku jarang sekali menyebutkan nama seseorang saat bercerita. Tidak, sesuatu yang lain itu kutakuti hanya akan menyinggungmu atau membuat jarak bahwa "aku berbeda dan lebih darimu"; dan, nama orang-orang itu jarang sekali kusebut dalam ceritaku karena pada mulanya, kupikir itu lebih menghargai mereka (selain beberapa kasus, dimana aku memang memiliki tendensi dan perasaan yang berbeda pada orang tersebut).

Namun bahkan aku mulai "berani" menyebutkan nama-nama orang yang kukenal saat bercerita, karena kau pun tak menunjukan keraguan. Maka, akan kedua nama hal sesuatu tersebut, aku pun tak lagi takut untuk menyebutnya kepadamu; dan kau pun sesekali demikian.

Kita tak seharusnya "takut" akan sebuah nama atau pun label; jika berlebihan, maka hanya akan menciptakan jebakan lain bagi kita sendiri dan juga pemisahan jarak yang lebih serius untuk hal-hal tertentu. Itu juga merupakan salah satu teknik, kau tahu? Untuk menciptakan ... jurang perbedaan dan sebagainya. Ada kaitannya juga, dengan apa yang kutulis sebelumnya.

Ahem.

Maka, walau kita setuju akan solusi yang sementara (untuk sementara ini), aku pun berharap dan juga akan terus berusaha agar kita bisa lebih saling ... memahami tentang ini (juga banyak hal lainnya). Namun apa yang kuminta darimu tak sama dengan ini; karena sesuatu itu, merupakan tuntutan yang melebihi kita sebagai manusia.

Maka, kupikir akan kuberikan sebagian pipa-pipa itu kepadanya saja untuk sekarang. Namun aku akan tetap menyimpan sebagian, setidaknya untuk saat ini.

Ah, tapi akan kuberikan saat aku merasa tepat saja.

Its That Time of the Month Again, and About Thoughts and Truth.

You know, that one, the obligatory pain all girls must suffer from each time. Well, the "perks" of us huh? Hahaha. Anyhow, because of that, today im gonna publish multiple posts. Don't be surprise; its how i often work, especially, in this time of the month.

*

Jadi lumayan banyak hal yang muncul dalam pikiran. Tidak akan kutuliskan semuanya disini tentu saja, dan tidak selalu bisa kubicarakan semuanya dalam satu waktu tentu saja (juga terkadang ada sedikit rasa kasihan pada yang harus menerima "sampahku" hahaha).

Salah satunya, tentang sesuatu, yang tergantung pada konteks. Ya tentunya semua hal demikian.

Yaitu tentang diam. Katanya diam itu emas, tapi di lain konteks diam itu juga dapat menjadi dosa. Dasar, selalu saja susah menjadi manusia ya.

Diam, padahal "tahu" tentang kebenarannya; diam, karena tak mau lelah memperjuangkan opini diri. Walau memang kita pun tak akan lepas dari kesalahan, tetapi memang jika tak pernah disuarakan, kebenaran yang ada padanya pun akan ikut hilang. Diam menjadi seolah kita menjawab "setuju", jika tak pernah kita tantang dengan jelas sesuatu itu.

Namun memang tak pernah mudah utnuk bersuara, terlebih akan hal yang bertentangan dengan arus utama. Memang berat, memang sulit; namun perlahan saja. Suatu hari, aku pun pasti akan bisa melampaui diriku yang saat ini.