What a hassle, a hassle, annoyance.
Apa ya yang sedang kupikirkan; namun aku tak lupa, hanya saja saat terpaan itu sudah berlalu - seperti segala hal yang berserakan - semuanya juga dengan cepat terbawa olehnya; dan saking kacaunya aku pun hanya dapat melihat dalam samar-samar.
Jika kutuliskan, hal terdalam yang ada pada dasar diriku, mungkin kau telah bisa menduganya; mungkin kau akan kecewa, mungkin kau akan terkejut. Aku ingin mengatakannya - aku telah berulang kali mengatakannya; aku selalu, mungkin selamanya, tetap demikian.
.
Aku tahu tentang segalanya - aku tahu tentang cinta yang tak lain juga adalah benci. Aku menyukai apa yang ada pada dirimu - aku membenci apa yang ada pada dirimu itu.
Aku harus selalu menghadapi perang yang panjang, aku harus selalu memilih untuk terkadang kalah dalam pertempuran namun demi kemenangan dalam perang. Mungkin memang - dan aku tahu - memang akulah yang terbaik pada hal ini. Namun aku lelah, tak pernahkah kau tahu? Telah hidup dalam waktu selama ini dan harus menghadapi segalanya seperti ini, aku muak. Aku muak!
Aku mampu menciptakan. Aku menciptakan hal-hal terbaik dengan memanfaatkan perasaanku yang tak karuan. Aku menciptakan seolah segalanya dalam tragedi; bukankah aku seorang yang pun dramatis?
Namun tidak ... aku hanya menumpahkan, aku hanya membagi serpihan-serpihan jiwaku padanya; konsep yang sama, seperti pada peran seorang antagonis dalam film yang kusukai bukan?
Seringkali manusia itu simpel; naif, lugu. Apa adanya. Segalanya tak selalu hitam dan putih sejak awal - termasuk pada diri tiap manusia - tak seperti apa yang seringkali digambarkan dalam karya yang kita buat.
Juga, dan karenanya, memang banyak sekali hal yang berada dalam luar dari batas daya kita; karenanya terkadang kita hanya bisa bersandar kepada-Nya yang Maha Kuasa; kita hanya bisa berharap, berdoa, menerima, melakukan apa yang daya kita mampu; juga dengan terpaksa menaruh sebagian dari daya itu pada tangan orang lain - dan aku sangat membenci hal itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar