Rabu, 04 November 2020

[Unedited] * Khususnya, di Indonesia.

*Tentang rokok dan wanita.

Sebelumnya, image umum mengenai rokok memang sudah tidak baik. Benda ini kurang lebih akan selalu mengingatkan setiap orang pada dua benda lainnya, alkohol dan narkoba, menjadikan ketiganya seperti trio untuk orang-orang yang tidak baik. Image ini tentunya mendapat dampak yang kuat dari budaya di Indonesia yang mayoritas beragama Islam. 

Saya jadi ingat tulisan seseroang yang juga memiliki pemikiran seperti saya. Dia pun seorang perokok, namun bule. Dia bercerita, saat ia merokok di tempat terbuka (yang notabene kosong dan jauh dari siapapun) ada seseorang yang bahkan mau berepot-repot menegurnya saat ia lewat disebelahnya. Juga saat ia masuk kedalam lift sambil mengapit sebatang rokok di mulutnya, seorang wanita yang ada di dalam mulai batuk-batuk dengan kerasa sambil mengibaskan tangannya; padahal rokok si orang ini bahkan belum dinyalakan.

Saya tak tahu dia menulis itu murni dari pengalaman yang sebenarnya atau mungkin ada yang sedikit berbeda; yah namanya juga tulisan orang lain kan? Tapi saya pikir sih kemungkina itu utamanya kebenaran ya bisa saja, akrena seperti saya bilang, imagenya itu sduah buruk.

Tetapi diluar itu pun sebetulnya secara umum, trio ini memang sudah memilki image demikian. Karena di belahan dunia manapun, rata-rata kegiatan merokok sangat dibatasi, belum lagi sikap dari orang lain yang juga tampaknya bersikap sinis terhadap perokok. Tetapi terkadang bisa juga terjadi standar ganda, dimana minum alkohol dianggap biasa, namun merokok tidak.

Kembali lagi ke tanah air, selain dari image umum masyarakat yang menganggap perokok layaknya monster atau alien yang berbahaya, image ini semakin diperkuat dengan sensor yang dilakukan khususnya di layar kaca. Selain sensor blur pada rokoknya (juga persenjataan, luka, dsb), sensor juga dilakukan pada translate bahasa yang digunakan. Misalnya pada kalimat dialog seorang karakter yang mengatakan [You smoke?], semestinya diartikan sebagai "Anda merokok?" bukan? Namun pada kenyataannya, subtitle untuk terjemahannya malah diartikan menjadi "Anda punya kebiasaan yang buruk?" Ada lagi contoh dari sulih bahasa yang kurang lebih sama kasusnya, tapi sayangnya saya hanya paling ingat yang ini.

Lucu saja sebenarnya. Karena sensor yang dilakukan pada film-film itu adalah untuk film yang jelas-jelas ratingnya/pangsa pasarnya untuk orang dewasa atau setidaknya cukup umur, juga tayangnya malam; dimulai dari jam 7 keatas dan biasanya selesai lewat tengah malam. 

Bagaimana ya ... saya tahu sih pengaruh dari media populer, lingkungan, bacaan, dsb itu memang bisa terjadi. Tapi saya lebih setuju dan menganut paham bahwa yang harus dilakukan itu penanaman pemahaman yang kuat sedari kecil untuk bekal di masa dewasa, atau dalam konteks film setidaknya pembimbingan dari orang tua. 

Tapi kembali lagi, film-film itu memang targetnya untuk audiens yang sudah cukup dewasa kan? jadi untuk apa juga memberi sensor yang berlebihan seperti itu, hahaha. Selain itu saya juga penganut paham bahwa, membatasi pengetahuan untuk melindungi seseorang atau menghindari sesuatu terjadi itu tidak lebih efektif, ketimbang penanaman pemahaman seperti yang saya anut.

Tapi yah saya tahu, pada akhirnya akan tergantung pada siapa yang pegang kuasa kan? Saya hanya kesal saja (ini motifnya personal) dan agak kasihan pada orang-orang yang "ditakut-takuti" seperti itu. Dunia sekarang ini sudah mengalami globalisasi yang semakin luas; jadi dibatasi seperti apapun toh pada akhirnya semua orang akan tahu/mendapat pengetahuan sendiri, atau justru hal itu yang menghampiri mereka, sederhananya di kehidupan sehari-hari pun tidak sulit untuk menemukan contoh atau perilaku yang jelek bukan? Misalnya saja alkohol. Dulu sulit sekali menemukan minuman seperti itu, selain bir-bir yang persenan alkoholnya kecil dan bisa ditemukan di minimarket (ini saja termasuk hal yang "baru" jika dalam konteks 10 tahun terakhir); saya ingat pernah baca pendapat seseorang tentang bir ini juga di suatu tempat. Nah sekarang, bahkan lebih mudah lagi. Memang di online marketplace biasanya masih dilakukan filtering, tapi di sosial media? Mudah sekali untuk menemukannya, apalagi soju yang kurang lebih setara dengan bir. Di tempat karoke keluarga saja masih bisa ditemukan tuh. Saya juga ingat ada yang menganalogikan globalisasi ini dengan air; jadi intinya menghadapi perubahan dunia itu bukan dengan mencari tempat tinggi untuk menghindari air, melainkan belajarlah untuk mengarunginya dengan aman; misalnya belajar berenang atau melaut.

Ahem, jadi kembali pada konteks rokok. Image rokok itu bagaimana ya ... kental sekali dengan image laki-laki, dunia pekerjaan yang tak umum, nakal; dan lainnya. Tetapi sering juga dikaitkan dengan feminisme, atau umumnya dengan kebebasan.

Hmm ... saya harus berjalan agak jauh lagi dari topik. Karena memang banyak hal yang terkait saat saya membahas ini. Yah bisa dibilang ini hanya pembelaan yang bersifat personal saja, dan bahwa setiap alasan itu selalu benar. Juga pada akhirnya, setelah mengetahui setiap hal, dan lain-lain, tetap saja yang diukur itu tentang sikap apa yang kita ambil bukan? Tentu saja. Tapi ya saya senang kalau ada yang mau berusaha memahami pikiran saya ini, walau tentu saja keputusan yang saya ambil itu bersifat hampir absolut.

Begini. Saya ceritakan dari sudut pandang bagi orang lain dulu. Kemungkinan besar, para wanita di Indonesia yang merokok (yang semakin cukup sering saya temukan sejak beberapa tahun belakangan) mungkin juga merasa terbantu oleh image Bu Susi, menteri kelautan itu. Hahaha, pada waktu itu bahkan foto-fotonya yang sedang merokok di atas kapal tidak mendapat sensor. Lalu entah sejak kapan tiba-tiba image rokok diganggu lagi; ada wacana tentang menaikkan harga rokok menjadi 2x lipat, lalu tentang penyensoran berlebihan pada film juga (tapi soal ini tak hanya soal rokok saja sih).

Tapi intinya saya bisa paham sekali jika wanita-wanita yang lain itu jadi bernai karena dia. Ah saya tidak bilang ini salah Bu Susi, atau bahwa mereka murni memutuskan untuk merokok karena melihat dia saja. Tidak. Saya pikir mereka pun mungkin sebenarnya sudah sejak lama ingin mencoba/menjadi perokok, namun sulit karena utamanya, image yang jelek itu. Apalagi kalau dia seorang muslimah.

Astaga, jadi wanita memang cukup menyulitkan. Tentu saja bagi laki-laki juga sama, daan memang para wanita juga ada yang tak menyukai laki-laki perokok, tapi begitulah. Rasanya, menjadi wanita perokok itu lebih sulit lagi tantangannya. Bagai menemukan bulan yang berwarna biru.

Haha; tentu saja ini membawa kita ke poin selanjutnya, apakah wanita-wantita itu merokok hanya karena ingin menjadi berbeda dari yang lain saja? Bisa jadi. Tapi intinya, apapun alasannya, menjadi wanita perokok itu sulit sekali di Indonesia. Makanya saya katakan, terkadang merokok seperti menjadi simbol feminisme atau kebebasan karena ya, tidak mudah untuk melawan image atau stigma yang sudah terbentuk itu. Jadi tentunya ya, wajar saja jika ada sedikit kebangaan atau malah mereka melakukannya demi kebangaan itu, karena ya cukup simbolik.

Kalau alasan saya secara personal sih tentu ada, tapi takkan saya jabarkan disini. Mengenai alasan feminisme diatas? Tentu ada, tapi sedikit sekali porsinya jika dibandingkan dengan beberapa alasan saya yang lain.

Jadi begitulah. Terima kasih sudah membaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar